-
Yohanes Bowo Widodo
Pengenalan kelompok FONEM berbasis jaringan syaraf buatan menggunakan algoritma pembelajaran extended least squares
Salah satu cara interaksi manusia dan komputer
adalah melalui suara. Dalam beberapa hal cara ini
memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan
interaksi melalui gerakan mekanis. Agar interaksi
melalui suara berjalan baik, salah satu kemampuan
yang harus dimiliki oleh komputer adalah
kemampuan menenali suara manusia, yaitu tersusun
dari fonem-fonem apa saja suara tersebut.
Penelitian ini mempelajari karakteristik suara
yang diucapkan oleh manusia dan menentukan
kelompok fonem apa saja yang menyusun suara
tersebut. Kelompok fonem yang dimaksudkan
meliputi Vowel, Nasall, Buzzzbar, Voiced Plosive,
Unvoiced Plo=asive, Voiced Fricative, Unvoiced
Fricative, silent. Keluaran dari proses ini dapat
dipergunakan sebagai parameter bantu yang sangat
bermanfaat untuk mengenali fonem apa saja yang
membangun suatu suara masukan. Pendekatan
pemecahan masalah yang digunakan adalah Jaringan
Syaraf Buatan. Suatu cara yang memang cocok untuk
masalah-masalah pengenalan pola, dimana
karakteristik permasalahannya adalah tidak
lengkapnya input, ketidak tegasan aturan dan
adanya noise. Arsitektur jaringan syaraf yang
dipilih adalah jaringan feedforward
backpropagation. Algoritma pembelajaran yang
digunakan adalah algoritma pembelajaran Extended
Least Square, suatu metoda yang memadukan teknik
Least Square dan gradient descent. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran
menggunakan Extended Least Square (ELS) memiliki
tingkat konvergensi yang jauh lebih tinggi
dibandingkan pembelajaran menggunakan
Backpropagation standar, terutama pada awal
pembelajaran.
-
Humuntal Rumapea
Kajian Kinerja Fuzzy C-means clustering multiresolusi pada segmentasi citra inderaja
Segmentasi citra adalah salah satu bagian penting
dari pemrosesan citra, yang bertujuan untuk
melakukan pembagian citra menjadi beberapa
wilayah yang homogen berdasarkan kriteria
kemiripan tertentu. Salah satu metode yang dapat
digunakan untuk ini adalah dengan algoritma Fuzzy
C-Means clustering. Tujuan dari penelitian ini
adalah untuk melakukan kajian terhadap kinerja
dari algoritma Fuzzy C-Means tersebut bila proses
clustering citra dilakukan secara multiresolusi,
dan selanjutnya membandingkannya dengan
clustering secara konvensional. Untuk membangun
citra multiresolusi atau citra dengan resolusi
yang berbeda=beda digunakan transformasi wavelet,
yakni dengan melakukan proses dekomposisi untuk
menghasilkan citra dengan resolusi yang lebih
kecil , dan sebagai bahan uji coba digunakan
citra inderaja. hasil uji coba menunjukkan, bahwa
pengklusteran citra dengan Fuzzy C=Means
multiresolusi memiliki kinerja yang lebih baik
dari cara konvensional, terutama bila dilihat
dari sisi biaya komputasi, demikian juga dari
sisi hasil, pengklusteran citra multiresolusi
juga menghasilkan kluster yang lebih kompak.
xiii + 93 hlm.;gbr.+ tbl.;
Bibliografi : 19 (1973-1999)
-
Yova Ruldeviyani
OTOMATISASI pembentukan kamus pola pemicu dalam ekstraksi informasi
Ekstraksi informasi merupakan pemrosesan bahasa
alami yang menyaring item-item informasi dari
bacaan secara otomatis. Teknik ekstraksi
informasi bisa melalui pencocokkan kata kunci
atau penggunaan aturan sintaktis dan semantis.
Teknik ekstraksi informasi yang menggunakan
aturan sintaktis dan semantis memerlukan pola
ekstraksi yang disebut pola pemicu. Kamus pola
pemicu dapat diangun secara toomatis. Membangun
kamus pola pemicu secara otomatis merupakan
tujuan penelitian ini. Pola pemicu dibangun secaa
otomatis dengan menggunakan metode Riloff
[RIL93]. Ruang lingkup penelitian ini hanya
sebatas pembangunan kamus pola pemicu secara
otomatis untuk ekstraksi item informasi tujuan,
ruang lingkup, metode dan kesempulan dari dokumen
sumber berupa abstrak skripsi Fakultas Ilmu
Komputer Universtitas Indonesia dan abstrak tesis
Program Studi Ilmu Komputer Program Pascasarjana
Universitas Indonesia. Hasil penelitian
menyimpulkan bahwa kamus pola pemicu untuk
dokumen berbahasa Indonesia pada domain abstrak
tulisan ilmiah, dapat dihasilkan secara otomatis.
kamus pola pemicu akan dihasilkan lebih baik
apabila jumlah kalimat uji coba lebih bervariasi,
struktur kalimat baku, dan program pengurai
sintaks yang akurat.
-
Anung B. Ariwibowo
Pendekatan Multi-dimensi Dokumen dalam sistem temu-kembali informasi menggunakan model spreading activation.
Penelitian ini mengkaji pemanfaatan konsep
multi-dimensi (atribut dokumen) de dalam
Sistem-temu kembali Informasi (STI). Model yang
digunakan untuk mengakomodasi konsep
multi-dimensi ini adalah model Spreading
Activation (SA) [Cre95]. Penggunaan model SA
dalam Sistem Temu-kembali Informasi (STI)
memiliki beberapa karakteristik, salah satunya
adalah kemampuan mengaktifkan istilah=istilah
(terms0 pada simpul-simpul yang tidak terdapat
dalam kueri, tetapi terkait secara konsep.
Sedangkan konsep yang terkait dapat dibentuk dari
berbagai dimensi suatu dokumen, seperti
sitilah-istilah yang dipakai,k referensi yang
diacu (cocited), dan referensi yang mengacu
(cociting). Sekumpulan dokumen yang relevan
terhadap suatu kueri, diharapkan mempunyai
sejumlah istilah yang sama (coterms) dan
referensi yang diacu sama (cocited), serta
referensi yang mengacu sama (cociting). Hasil uji
coba terhadap 1162 abstrak dokumen penelitian
BATAN menunjukkan, belum terlihat adanya
relavansi atnara dokumen-dokumen yang terambil
melalui masing-masing dimensi coterms, cociting,
dancocited dengan kueri yang diberikan. penetapan
hubungan relevansi dokumen-dokumen tersebut
dilakukan secara subjektif, dengan melakukan
pembandingan terhadap isi abstrak dokumen dengan
konsep yang mewakili kueri tanpa melibatkan para
ahli dalam bidang ilmu nuklir. Penetapan
relevansi dokumen teraktivasi masih perlu
dievaluasi lebih lanjutoleh pakar dalam bidang
ilmu nuklir.
Kata kunci: Temu-kembali Informasi,
Cociting, Co
terms, Cocited, Multikonsep, Multidimensi,
Spreading Activation. vi_93 hlm.,29
gbr.,15 tbl.,21 bib (1964-1999),3 lamp.
-
Urip Teguh Setijohatmo
Rancangan bahasa Query berorientasi objek OXRL (Extended object retrieval language)
Bahasa query merupakan suatu komponen penting
dari suatu sistem manajemen basis data apapun.
Jika pada sistem basis data relational sudah
terdapat bahasa query standar, SQL, maka tidak
demikian dgn sistem basis data berorientasi
objek. Pada sistem basis data berorientasi objek
masih terdapat banyak pemikirin mulai dari model
referensi/ bangunan dasar, transaksi-transaksi
berdurasi lama, mekanisme proteksi, struktur
storage, dan mekanisme akses, sampai dengan
bahasa query. Salah satu penelitian yang penulis
lakukan adalah pengembangan bahasa query objek
ORL (Object Retrieval Language) [4] yang
selanjutnya disebut sebagai OXRL (Extended Object
Retrieval Language). Sintak ORL telah
mempertimbangkan kepraktisan (concisensess)
melalui ekspresi path yang mempersingkat penulisan
properti dan predikat, serta memenuhi beberapa
kemampuan (features) objek sesuai paradigma dan
pemodelan objek. ORL juga dibangun diatas bahasa
formal (calculus dan algebra) berkemampuan
properti-2 set, list. Walau pun demikian ORL belum
berkemampuan memanggil metode dan belum
teroptimasi. Dan karena itu fokus penelitian adalah
mengembangkan bhs query objek ORL dgn kemampuan
pelaksanaan metode dan juga melengkapinya dgn
pengoptimasi. Kontribusi utama penelitian ini
adalah memperluas tata bhs ORL yang berkemampuan
memanggil metode, perluasan calculus objek[7] untuk
melingkupi juga keluaran lebih dari sebuah klas, dan
perluasan algebra objek [7] yi penambahan
operator untuk mengkomodasi perluasan calculus
Objek[7], serta implementasi pemrosesan query.
Langkah-2 yang digunakan untuk diimplementasi
mengikuti metodologi pemrosesan query yang
meliputi parsing terhadap query masukan,
transformas bahasa query.
-
Siti Aminah
Penggunaan metoda clustering dalam pemetaan kualitas pendidikan SMTA di INDONESIA berdasarkan nilai UMPTN
Tesis ini membahas metoda-metoda clustering dan
memilih metoda yang tepat untuk memetakan rataan
nilai UMPTN per kabupaten/ kodya seluruh
Indonesia. Data yang dipergunakan dalam
penelitian ini adalah rataan nilai UMPTN per
kabupaten/ kodya tahun 1999. Penelitian telah
menunjukkan bahwa metoda yang paling tepat untuk
memetakan rataan nilai UMPTN adalah metoda
K-Means clustering. Dari hasil pemetaan
disimpulkan bahwa kualitas pendidikan SMTA yang
baik biasanya berasal dari daerah yang sarana dan
prasarananya sudah cukup baik.
-
Febriliyan Samopa
Kuantisasi vektor dengan pendekatan metode FAIR-SHARE amount pada kompresi citra
Untuk mengkompresi data menggunakan teknik
kuantisasi vektor, dibutuhkan sebuah codebook
yang dibentuk dari vektor-vektor yang dihasilkan
dari data asal. Banyak metode-metode untuk
membentuk codebook ini, yang bersifat
deterministik maupun yang bersifat
non-deterministik. Salah satu metode
deterministik yang paling sering digunakan adalah
Algoritma Lloyed. Sayang sekali Algoritma Lloyd
ini memiliki kompleksitas n.
-
Zainal Agus Arifin
Algoritma clustering adaptif pada klasifikasi citra inderaja multispektral
Citra penginderaaan jauh multispektral terdiri dari
sejumlah citra yang diperoleh melalui panjang
gelombang yang bervariasi. Masing-masing spektrum saling
menunjang dalam proses klasifikasi kelas suatu
objek. Algoritma clustering untuk klasifikasi citra
multispektral ini, telah banyak dikembangkan,
termasuk dengan cara mengoptimasidanmengintegrasikan
berbgi algoritma. Tesis ini mengusulkan sebuah
algoritma, yakni algoritma clustering adaptif
(CA) yang berusaha mengatasi sejumlah kelemahan yang
terdapat pada algoritma sebelumnya dengan
mengintegrasikan metode hierarchical dan
partitional clustering. Metode hierarchical ini
terdiri dari split dan merger, dimana split
berusaha membagi dataset menjadi sejumlah cluster
sesuai karakteristik citra. Proses split yang
berdasarkan distribusi pixel dalam feature space
ini menggunakan histogram dari komponen utama citra
multispektral tersebut. Sedangkan proses merger
berusaha menggabungkan secara ketat cluster yang
telah dihasilkan, agar cluster yang memang sangat
berdekatan saja, yang digabung. Hal ini
mengantisipasi berperannya noise yang sangat
mungkin mengakibatkan chain effect. Adapun
partitional clustering berusaha mendeteksi
prototype yang sebenarnya dari tiap cluster, dengan
memanfaatkan FCM (Fuzzy C-Mean). Sebab FCM sangat
baik dalam mengatasi uncertainty yang mungkin terjadi
akibat adanya noise atau outlier. Algoritma CA ini
diuji coba terhdp sejuml. citra penginderaan jauh
dari satelit Landsat TM dan GOES-8. untuk bahan
pembandingan, sampel juga diuji coba dengan
algoritma ISMC, yang berdsrk. penelitian sebelumnya
telah terbukti lebih baik dari pada ISODATA dan SMC.
|